Kemarin aku mendapat sebuah kritikan dari temanku sendiri. Ia bilang bahwa aku belum mengikhlaskan kepergian Ayahku karena aku masih sering menangis hanya dengan memikirkannya. Lalu aku berpikir, keikhlasan siapa yang tau. Aku sudah mengikhlaskan kepergian Ayahku, karena bagaimanapun ini semua yang terbaik daripada Ayahku harus merasakan sakit ketika penyakit terus menggerogoti tubuhnya.
Tapi biar kutunjukkan kenapa aku sering menangis tentang Ayahku. Pernahkah kalian membayangkan hidupmu berjalan tanpa seseorang yang bisa kau jadikan sebagai pegangan hidup ketika kamu jatuh? Jawabannya tidak, memang kamu masih bisa berpegangan pada Ibu, saudara ataupun bahkan temanmu. Tapi Ayah, Ayah adalah salah satu orang yang bisa membuatmu berpikir rasioanal tanpa mengesampingkan egomu.
Aku begitu kehilangan sosok itu, sosok yang akan memberikanku motivasi ketika aku merasa jatuh. Orang yang akan dengan senang hati mendengar ceritaku sampai aku tertidur. Itu semua ada di Ayahku.
Hari ini kakakku telah sah menerima gelar sarjana ekonominya. Tentu aku bangga dengan gelar baru yang disematkan di belakang namanya sekarang. Namun semua itu berubah sedih ketika Ibuku menangis haru melihat kakakku berjalan ke depan panggung dan memindahkan tali toganya. Seharusnya papa ada disini, melihat bagaimana hasil beliau mengusahakan dengan berbagai cara untuk pendidikan anaknya. Aku mengerti bagaimana Ibu dan Ayahku harus menekan pengeluaran mereka demi biaya kuliahku dan kakakku. Mereka juga hanya makan dengan lauk seadanya hanya untuk mengirimi uang saku padaku dan kakakku. Mereka juga secara bergantian memberi dukungan pada aku dan kakakku agar tak putus asa untuk melanjutkan pendidikan kami. Itulah yang orang tuaku lakukan agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak.
Beberapa bulan yang lalu, aku dan kakakku memang sengaja membelikan Ibu dan Ayahku sepasang kebaya sarimbit. Jadi sarimbit ini sendiri bisa dibilang baju couple-nya orang jawa. Aku dan kakakku memang berniat membeli itu untuk dipakai saat wisuda kakakku nantinya. Karena aku dan keluargaku belum pernah memakai sesuatu barang yang kembar.
Saat melihat baju yang kami pilihkan, betapa bahagianya Ayahku. Meski ia sudah terbaring sakit di kasur, namun ia memuji bahwa baju yang aku pilih adalah baju yang sangat bagus dan beliau mau memakai baju itu di wisuda mas. Namun semua berubah saat beliau ternyata tak bisa bertahan hingga hari wisuda kakakku datang. Dan akhirnya hanya ada aku dan Ibuku yang datang ke acara wisuda kakakku.
Carin hanya mau mengatakan bahwa semua yang telah dilakukan Ibu dan Ayahku tak sia-sia. Semoga aku dan kakakku memiliki ilmu yang bermanfaat bagi masa depan kami. Hingga kami bisa setidaknya mengangkat tinggi derajat keluarga kami dengan ilmu yang sudah kami dapat hingga sejauh ini
Hari ini pula Ayahku tepat empat puluh hari meninggalkan keluarganya di dunia. Jika orang Jawa bilang, empat puluh hari sama saja dengan sudah tak adanya arwah Ayahku di sekitar rumah. Ya meskipun benar jika seperti itu, aku tetap meyakini bahwa Ayahku tak akan pernah berhenti melihat dan menjagaku meski dengan cara yang lain.
Aku yakin bahwa Ayahku sedang tersenyum manis melihat semua yang terjadi hari ini :).
Komentar
Posting Komentar