Entah kenapa akhir-akhir ini aku sedikit merasa terintimidasi dengan beberapa temanku yang sudah bekerja. Kebanyakan dari temanku memang lebih memilih bekerja ketimbang harus kuliah. Dan itu cukup membuatku sedikit menarik diri dari mereka dan juga membatasi diri.
Bukan karena aku mementingkan status atau aku hanya berpikiran akan berkumpul dengan teman yang memiliki status yang sama denganku. Tidak. Aku berusaha menjalin hubungan dengan siapapun orang yang menurutku baik untukku.
Alasan kenapa aku menarik diri dan membatasi pergaulanku dengan mereka karena aku rasa aku tak sepadan dengan mereka. Logikanya mereka sudah bisa menghasilkan uang sedangkan aku hanya bisa menunggu uang dari Ibuku. Bukankah akan sangat jahat jika aku memakai uang hasil jerih payah Ibuku hanya untuk bermain? Aku mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada hanya sekedar bermain.
Senang melihat mereka sudah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Tapi di sisi lain aku juga ingin merasakan memiliki uang sendiri, hasil jerih payahku sendiri.
Ketika aku pergi bersama dengan mereka, aku akan meminta untuk pergi ke sebuah kafe yang tak begitu mahal, atau bisa dibilang mungkin kafe yang cocok dengan kantong mahasiswa. Tapi jika pilihan mereka kafe yang mahal, maka aku akan menahan diri untuk tidak memilih menu yang mahal. Bahkan aku bisa hanya membeli minum saja. Tapi mereka yang bekerja bisa dengan gampangnya memilih makanan dan minuman semau mereka.
Ketika berbelanja pun aku hanya akan menjadi pengantar bagi mereka. Mereka dengan leluasa memilih mana baju ataupun barang yang mereka inginkan daripada mereka butuhkan. Dan aku hanya menjadi penonton yang hanya bisa menandai baju mana yang akan kubeli *jika nanti aku memiliki uang*.
Mereka dengan begitu gampangnya mengajak bepergian ke luar kota dengan hanya merencanakan secara mendadak. Tapi bagiku itu mustahil bagiku, aku harus menabung terlebih dahulu untuk pergi berlibur.
Terkadang aku merasa begitu menyedihkan ketimbang mereka. Aku juga merasa mereka tak bisa menempatkan diri menjadi aku. Setidak mereka harus tau bagaimana kehidupan. Tapi aku ingat bahwa manusia sebagian besar hanya mementingkan kepentingan mereka daripada kepentingan orang lain.
Terlihat bahwa aku iri kepada mereka, memang iya.
Tapi aku berpikir bahwa setiap orang memiliki porsinya masing-masing, memiliki jalannya sendiri-sendiri. Berpikir saja begini, aku belum bisa memiliki gaya hidup seperti mereka, tapi mereka juga tak bisa memiliki kesempatan sepertiku. Semua terlihat begitu adil bukan?
Mari berpikir positif saja bahwa Allah sudah mengatur rezeki dan porsinya masing-masing. Berkaca dari aku sendiri, aku tak seharusnya merasa iri pada mereka. Aku dan mereka memang berbeda, dan aku tak harus mengikuti gaya hidup mereka. Aku hanya perlu menjadi diri sendiri dan mencoba mengerti mereka.
Jangan pernah lelah untuk mengerti manusia.
I believe if you keep your faith, you keep your trust, you keep the right attitude, if you're grateful, you'll see God open up new doors - Joel Osteen
Komentar
Posting Komentar