Langsung ke konten utama

Selamat Hari Ibu Untuk Mama yang Merangkap Menjadi Papa

Tulisan ini aku tulis saat malam hari di Bus Bagong karena aku sedang perjalan pulang ke rumah. Dan malam ini juga masih terhitung tanggal 22 Desember yang artinya masih tergolong Hari Ibu.

Tulisan ini bertujuan untuk mengutarakan bagaimana aku menyayangi Mama. Bukan berati aku hanya menyayangi Mama pada tanggal ini saja. Tulisan ini aku buat hanya karena bertepatan dengan momen Hari Ibu saja.

Mama sosok wanita yang dengan ikhlasnya bertaruh nyawa untuk melahirkan Carin di dunia ini. Saat itu beliau pernah bercerita bahwa beliau pernah merasa malu ketika dinyatakan mengandung aku. Sedih tentu mendengar ucapan Mama seperti itu. Tapi setelah mendengar alasannya aku tau bahwa Mama seseorang yang polos.

Mama beralasan jika beliau malu karena saat itu beliau baru saja melahirkan kakakku yang baru saja berumur satu tahun. Mama saat itu takut jika dicap sebagai seorang istri yang suka mengandung anak haha.

Tapi karena beliau memiliki hati terlalu baik, akhirnya beliau tetap mempertahankanku. Beliau mulai menjagaku dari janin hingga sekarang karena beliau sayang padaku.

Aku pernah bertanya pada Mama, "Ma kenapa Mama ga malu punya anak kayak Carin? Carin belum bisa banggain Mama sama Papa. Carin ga secantik anak wanita lainnya.".
Dan Mama cuma jawab, "Kamu gatau rasanya punya anak gimana. Bangga dek. Mama bahkan ga ada pikiran buat jahatin kamu pas tau badanmu gosong-gosong pas lahir. Kenapa? Karena Mama sayang.".

Mama juga orang pertama yang bakalan peluk Carin pas Carin sedih. Setiap apapun keadaannya atau masalahnya. Tapi Mama juga bakalan orang yang paling marah ketika Carin dijahati atau dilukao orang lain.
Mama bukan orang yang akan dengan menye-menye nya menghiburku ketika aku sedih atau bahkan putus cinta. Beliau akan dengan lantangnya menyuruhku untuk tidak menangis. Beliau memang kekeh melarangku pacaran dulu meskipun aku selalu melanggarnya hehe.

Mama juga istri yang baik. Beliau setiap pagi akan bangun jam 4 pagi hanya untuk menyiapkan sarapan. Ya meskipun nantinya mau dimakan atau tidak oleh Papa. Tapi beliau tak pernah mengeluh atau bahkan marah pada Papa. Setelah menyiapkan sarapan, beliau akan membangunkan aku dan kakakku. Dengan manjanya kami akan meminta mama menyuapi kami secara bergantian hanya karena kami mengantuk hehe.

Mama dan Papa adalah perpaduan yang serasi menurutku. Papa yang galak namun sayang pada kami, dan Mama yang bisa sabar serta dapat meluluhkan Papa ketika emosi. Mama akan meredam segala kemarahan Papa dengan kesabarannya yang begitu besar.

Mama pernah menjadi pahlawan yang menyelamatkan kuliahku yang saat itu sebenarnya akan berhenti di tengah jalan. Beliau dengan kekehnya tak ingin melihat salah satu anaknya putus kuliah. Akhirnya beliau sempat bekerja menggantikan Papa yang sedang dalam masalah. Yang di pikiran mama saat itu hanya bagaimana cara bisa membuat kakakku lulus dan aku tetap bisa kuliah. Beliau rela hanya makan dengan tahu dan sambal hanya untuk menabung uang sangu untuk anaknya.

Saat Papa sakit, bertepatan dengan aku UAS. Jadi terpaksa aku tidak bisa menemani Papa dari awal masuk rumah sakit. Dan saat itu aku memilih untuk segera pulang setelah UAS ku selesai. Betapa sedihnya aku saat melihat Mama tertidur dengan posisi duduk. Terlihat guratan lelah di wajah Mama. Aku tau ketika Papa di rumah sakit adalah hari-hari yang melelahkan bagi kami. Tapi Mama tetap menjadi sosok yang kuat karena Mama masih bisa membagi pikirannya antara anak-anak dan Papa yang saat itu begitu manja pada Mama. Beliau dengan sayang dan sabar merawat Papa meskipun beberapa kali Papa memarahi Mama. Itu semua karena Papa lampiasan Papa akan sakitnya.

Sampai akhirnya Papa tiada. Kini Mama memiliki dua peran sekaligus. Menjadi Ibu yang mencurahkan segala perhatian pada keluarganya. Dan siap menjadi benteng ketika keluarganya ada masalah.

Di hari ini, Carin berharap Mama sehat, kuat terus, bahagia selalu, dilancarkan semua urusannya, dan dijauhkan dari semua kesedihan.

Sabar ya Ma, tunggu Carin sama Mas bisa bahagiain Mama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa seseorang sering merendahkan orang lain?

Kenapa aku mengangkat tema ini ? Karena akupun juga masih sering merendahkan orang yang baru saja aku temui meski hanya bertemu satu kali hehe. Jadi balik lagi, kenapa kamu bahkan aku suka merendahkan orang lain? Itu karena kita melihat seseorang itu dari luar saja. Ngga bisa dipungkiri kalo emang nge-nilai seseorang dari luar itu gampang banget karena kita cuma harus ngenilai pake indera kita. Padahal kalo diliat-liat, indera kita itu cuma nangkep dari luarnya aja. Sedangkan apa yang kita lihat biasanya ngga sama kayak apa yang kita rasakan. Maksudnya, apa yang bisa kita lihat terhadap orang itu bisa aja beda sama sifat aslinya. Benerkan? Cerita dikit aja ya. Aku pernah di "rendahin" sama temen sekelas aku meski mereka kayaknya emang ga sengaja hehe. Jadi ceritanya semester tiga kemarin aku ngambil mata kuliah Pkn. Nah mata kuliah itu hanya bisa diambil kalo kita dapet IP 3,5 karena kan jatah sks-nya bakalan banyak. Nah, alhamdulillah aku bisa ngambil mata kuliah itu. D...

Baper Ih Baper

'Gitu aja baper' 'Baperan ih' 'Cuma bercanda doang kali, gitu aja baper' 'Biasa aja, baper banget jadi orang' Udah biasa banget kan denger yang begituan, apalagi kalo denger kata baper pasti uda familiar di kalangan anak muda jaman sekarang. Baper sendiri artinya bawa perasaan, maksudnya ketika kamu ngehadepin apapun itu perasaan kamu pasti kebawa. Kayak seumpama kamu minta maaf karena kamu nggak ikut kerja kelompok. Tapi tiba-tiba teman kamu jawab, "Ngga masalah, gausa minta maaf kali. Baper banget sih wkwk". Harusnya sih kamu bersyukur karena temen kamu masih mau minta maaf, kalo seumpama temen kamu kamu ga punya perasaan buat minta maaf kan kamu bakalan sebel juga.   See , semakin kesini semakin ada yang salah dari kata baper. Menurutku meminta maaf merupakan hal yang patut untuk dihargai. Bukan itu saja, tapi ketika seseorang mengucapkan maaf, terima kasih dan tolong, maka hargai orang itu. Karena tak mudah untuk mengucapkan tiga ka...

Kenapa Harus Malu Dengan Belajar?

Entah kenapa akhir-akhir ini aku sedikit merasa terintimidasi dengan beberapa temanku yang sudah bekerja. Kebanyakan dari temanku memang lebih memilih bekerja ketimbang harus kuliah. Dan itu cukup membuatku sedikit menarik diri dari mereka dan juga membatasi diri. Bukan karena aku mementingkan status atau aku hanya berpikiran akan berkumpul dengan teman yang memiliki status yang sama denganku. Tidak. Aku berusaha menjalin hubungan dengan siapapun orang yang menurutku baik untukku. Alasan kenapa aku menarik diri dan membatasi pergaulanku dengan mereka karena aku rasa aku tak sepadan dengan mereka. Logikanya mereka sudah bisa menghasilkan uang sedangkan aku hanya bisa menunggu uang dari Ibuku. Bukankah akan sangat jahat jika aku memakai uang hasil jerih payah Ibuku hanya untuk bermain? Aku mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada hanya sekedar bermain. Senang melihat mereka sudah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Tapi di sisi lain aku juga ingin merasaka...